Kampus Terpadu : Jl. Ring Road Utara, Condong
Catur, Sleman, Yogyakarta
Telp: (0274) 884201 – 207
Fax: (0274) 884208
Kodepos: 55283
E-Mail: amikom@amikom.ac.id
Banyak calon mahasiswa S3 informatika datang dengan bekal keterampilan teknis yang solid. Penguasaan pemrograman, framework kecerdasan buatan, atau teknologi sistem informasi sering dianggap sebagai indikator utama kesiapan studi doktoral. Keterampilan tersebut memang penting, tetapi dalam riset doktoral hal tersebut bukan lah inti dari keseluruhan proses akademik. Studi S3 lebih banyak menguji cara berpikir dibandingkan kemampuan mengimplementasikan teknologi.
Peran Technical Skill dalam Riset Doktoral
Keterampilan teknis tetap merupakan prasyarat penting dalam riset informatika. Calon mahasiswa doktor perlu memiliki kemampuan mengimplementasikan algoritma, mengelola data, menjalankan eksperimen, dan menggunakan perangkat komputasi yang relevan dengan bidang penelitiannya. Tanpa kemampuan teknis yang memadai, ide riset yang baik akan sulit diwujudkan menjadi artefak ilmiah yang dapat dievaluasi.
Namun, pada level doktoral, technical skill diposisikan sebagai alat bantu/instrumen bukan tujuan akhir. Implementasi teknis tidak dinilai sebagai kontribusi ilmiah dengan sendirinya tetapi harus didukung oleh justifikasi akademik yang kuat. Sistem yang berjalan dengan baik belum tentu memiliki nilai riset apabila tidak menjawab pertanyaan ilmiah yang jelas atau tidak memperkaya pengetahuan yang sudah ada. Oleh karena itu, penguasaan teknis yang tidak disertai dengan kerangka berpikir ilmiah sering kali menghasilkan penelitian yang kuat secara implementasi, tetapi lemah secara kontribusi.

Critical Thinking sebagai Fondasi Utama Riset
Critical thinking berperan sebagai fondasi utama dalam riset doktoral. Kemampuan ini tercermin dari cara mahasiswa menelaah literatur, membangun argumen, serta merumuskan posisi penelitiannya agar koheren dan dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa S3 dengan critical thinking yang matang tidak hanya bertanya “bagaimana cara membuat sistem bekerja”, tetapi juga “mengapa pendekatan ini dipilih”, “apa keterbatasannya”, dan “apa implikasinya terhadap pengetahuan yang ada”. Kemampuan ini menjadi kunci dalam mengidentifikasi research gap yang sahih, membedakan novelty yang substansial dari sekadar variasi teknis, serta menjustifikasi pilihan metodologi secara ilmiah.
Dalam praktiknya, critical thinking membantu mahasiswa membedakan antara novelty yang substansial dan variasi teknis yang bersifat inkremental. Kemampuan ini juga menentukan kualitas respons terhadap masukan pembimbing dan reviewer. Kritik diperlakukan sebagai bagian dari proses ilmiah, bukan sebagai hambatan personal. Tanpa cara berpikir kritis, mahasiswa cenderung defensif terhadap masukan sehingga sulit berkembang secara akademik.
Ketidakseimbangan antara Skill dan Cara Berpikir
Salah satu pola yang sering muncul dalam studi doktoral informatika adalah ketimpangan antara kemampuan teknis dan kedalaman berpikir. Mahasiswa dengan latar belakang industri atau pengembang sistem sering kali sangat unggul dalam implementasi, tetapi kesulitan merumuskan kontribusi ilmiah yang eksplisit. Sebaliknya, mahasiswa dengan latar belakang teoritis yang kuat, tetapi minim keterampilan teknis, dapat mengalami hambatan dalam merealisasikan ide risetnya.
Riset doktoral menuntut keseimbangan keduanya, dengan penekanan yang jelas pada cara berpikir. Technical skill dapat dipelajari dan ditingkatkan seiring waktu. Sebaliknya critical thinking juga memerlukan pembiasaan intelektual yang lebih mendalam. Oleh karena itu, kesiapan masuk S3 tidak hanya ditentukan oleh portofolio teknis, tetapi oleh kesiapan untuk berpikir secara reflektif, argumentatif, dan terbuka terhadap evaluasi ilmiah.
Implikasi bagi Calon Mahasiswa S3 Informatika
Bagi calon mahasiswa yang mempertimbangkan studi doktoral, penting untuk merefleksikan keseimbangan antara kemampuan teknis dan cara berpikir. Penguasaan teknologi mutakhir merupakan aset, tetapi bukan jaminan keberhasilan. Studi S3 menuntut kemampuan untuk menempatkan teknologi dalam kerangka ilmiah yang lebih luas. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “apakah saya bisa membangun sistem ini”, tetapi “mengapa sistem ini penting secara ilmiah?”
Di lingkungan akademik Universitas Amikom Yogyakarta, program doktoral dirancang untuk membentuk peneliti yang mampu berpikir kritis sekaligus kompeten secara teknis. Proses bimbingan, diskusi riset, dan publikasi ilmiah menekankan pada kejelasan kontribusi, ketepatan metodologi, dan kedalaman analisis, bukan semata-mata kecanggihan implementasi. Riset doktoral pada akhirnya menilai kualitas cara berpikir yang melandasi penggunaan teknologi. Technical skill memungkinkan penelitian dijalankan, tetapi critical thinking menentukan apakah penelitian tersebut layak disebut sebagai kontribusi ilmiah.

